
Merujuk pada fenomena pemilihan presiden (pilpres) pada tahun 2004 dan 2009 maka figur atau ketokohan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) menjadi hal yang utama. Dukungan partai politik penting namun bukan daya tarik utama bagi pemilih.
“Untuk pilpres lebih dipengaruhi faktor figur dan ketokohan,” demikian disampaikan Pengamat Politik dari Politic Communication (Pollcom) Heri Budianto ketika dihubungi, Selasa (20/5).
Dukungan partai politik yang menjadi koalisi tak ditampiknya sedikit banyak memberikan pengaruh. Namun dengan syarat partai tersebut bekerja mesin politiknya dan bisa menggerakkan basis massa. Pun memiliki massa yang loyal. Heri mencontohkan dukungan suara loyal yang mungkin akan disumbang adalah dari simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kepada Gerindra yang menjadi induk koalisinya.
“Kondisi ini kembali lagi pada basis dukungan riil dari partai politik pengusung,” kata dia lagi mengenai pengaruh parpol dalam pilpres.
Hal itu disampaikan menanggapi gabungan suara koalisi Partai Gerindra cs yang lebih besar dibandingkan gabungan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan koalisinya berdasarkan hasil pemilihan legislatif (pileg). Pemilu tahun ini menurutnya tidak akan jauh berbeda dari Pemilu sebelumnya. Besaran hasil pileg tak berbanding lurus dengan hasil yang akan diperoleh pada pemilihan presiden.
“Nah saya melihat Pemilu 2014 juga seperti itu,” tutupnya.
KESBANGPOL PEMERINTAH KABUPATEN BANJAR MARTAPURA